Oleh : Muh Akmal Ahsan
Pengalaman tiga hari berada di Kepulauan Riau dan berinteraksi secara dekat dengan para kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) memberi saya sebuah kesempatan reflektif untuk merasakan denyut nadi kaderisasi di tempat ini. Di tengah himpitan realitas sosial yang beragam, saya menyaksikan bagaimana nyala komitmen intelektual dan keorganisasian tetap dipelihara dengan tekun.
Keberadaan IMM di Kepri hemat saya berhadapan dengan setidaknya tiga tantangan utama: pertama, tantangan geografis. Dimana bentangan alam yang terfragmentasi oleh laut memosisikan tantangan spasial itu sebagai determinan utama. Pimpinan organisasi yang hendak melakukan kerja-kerja kaderisasi lintas-pulau membutuhkan biaya logistik yang tidak sedikit.
Kedua, budaya hidup khas masyarakat urban. Tumbuhnya kesadaran individualis-materialistis sebagai efek samping dari modernitas perkotaan itu mereduksi makna pendidikan tinggi. Di tempat ini, kuliah tidak dihayati sebagai aktivitas intelektual dan sosial, ia semata-mata adalah instrumen untuk memperoleh ijazah dan mobilitasi ekonomi secepat mungkin.
Ketiga, heterogentiias. Kepri adalah tempat yang majemuk, ada orang Melayu, Jawa, hingga bugis. Keragaman itu menjadi ruang kemasyarakatan yang kaya namun kompleks. Ia adalah modal sosial yang inklusif di satu sisi, namun di sisi lain, sekaligus menuntut kapasitas kepemimpinan yang matang.
Namun demikian, di belakang keterbatasan itu, saya melihat daya tahan yang mengagumkan. Di pupil mata mereka, saya melihat cahaya harapan begitu besar di benak mereka. Mereka mencintai Ikatan ini sedalam mungkin.
Sebagian besar di antara kader itu adalah pekerja yang juga masih aktif berkuliah. Namun di tengah kesibukan itu, mereka masih setia ber-IMM. Di antara mereka bahkan banyak yang memimilih cuti bekerja untuk bisa menghidupkan IMM. Sesuatu yang sangat jarang disaksikan di pusat-pusat pergerakan lain.
Saya senang ada di sini selama tiga hari, seturut dengan itu juga berbangga dengan militansi para kadernya. Saya meyakini, kelak para kader itu akan dikenang sebagai anak-anak panah Muhammadiyah yang setia merawat persarikatan.